Mengapa saya menyukai komputer?
Orang tua saya cukup konservatif, yang bahkan saking konservatifnya, saya hanya memiliki TV hitam putih (yang cuma bisa liat TVRI), sampai saya kuliah (tahun 200x). Apa akibatnya? Karena tidak memiliki hiburan TV di rumah, maka hiburan saya hanya sebuah komputer. Betul, hiburan saya adalah komputer, bahkan sejak masih SD sudah bermain dengan komputer.
Di jawa ada pepatah, "witing tresna jalaran saka kulina", begitulah hubungan saya dengan komputer. Karena sejak kecil terbiasa bermain komputer, ini terbawa hingga kini.
Untuk mendalami bidang komputer, agar tidak cuma bermain game, saya mengambil studi S1 di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, sejak tahun 2000. Lulus pada tahun 2006. 6 tahun, cukup lama memang. Mengapa? pada saat kuliah, saya ingin mengetahui bidang komputer seluas mungkin, sehingga saya mengambil mata kuliah untuk semua bidang penjurusan.
Bingung? Maksud saya begini, pada masa akhir studi, setiap mahasiswa diharuskan membuat skripsi. Topik dari skripsi harus sesuai dengan penjurusan yang diambil. Ada 3 penjurusan waktu kuliah dulu, yaitu : sistem informasi, multimedia, dan (sori, yang ketiga saya lupa). Untuk teman-teman kuliah, semoga bisa memberitahu penjurusan yang ketiga. Untuk skripsi di salah satu penjurusan, maka harus mengambil 2 atau 3 mata kuliah pilihan di bidang penjurusannya. Karena ingin mengetahui bidang komputer secara luas, saya mengambil 2 atau 3 mata kuliah di setiap penjurusan, dengan harapan memiliki pengetahuan secara luas dan juga akan menambah poin ketiga bekerja. Yup, menambah poin, maksudnya, kalau mahasiswa lain hanya menguasai satu penjurusan, maka saya menguasai 3 penjurusan. Tetapi, ini tinggal harapan, karena ada kebijakan dari kampus, bahwa yang dicantumkan di daftar nilai hanya mata kuliah yang sesuai dengan penjurusannya dan 1 atau 2 mata kuliah lain (CMIIW). Sehingga beberapa mata kuliah yang saya ambil, tidak muncul di daftar nilai saya.
Setelah lulus kuliah, saya pernah bekerja di pabrik motor honda (PT Astra Honda Motor) sebagai analis-programmer, programmer di perusahaan kecil, dan sejak 2007 sampai saat ini bekerja sebagai sys.admin & security di asuransi (PT Asuransi Astra Buana). Asuransi astra ini, yang saya juga tidak kenal namanya di waktu awal, lebih dikenal dengan salah satu produknya, yaitu asuransi kendaraan garda oto.
Selain itu, di masa kuliah, saya juga pernah bekerja selama 3 bulan di AGIT (Astra Graphia IT), untuk mengisi waktu semester pendek (yang tidak saya ambil). Di sini, pekerjaannya adalah implementasi project eMAS Bank Mandiri, yaitu implementasi sistem baru di seluruh cabang bank mandiri. Pekerjaannya sendiri adalah mengupgrade/mengganti komputer cabang bank mandiri agar sesuai dengan kebutuhan, dan juga menginstall sistem di cabang tersebut. Maksudnya menginstall sistem adalah, mengganti seluruh OS dan aplikasi (termasuk server) menjadi windows 2000 dan juga aplikasi banking mereka (vendornya dari silverlake). Untuk cerita bank madiri dan AGIT ini akan saya ceritakan lain waktu.
Senin, 05 April 2010
Kill Task di VMware
Beberapa hari lalu, kami mengalami hal yang aneh dalam penggunaan DPM (Dynamic Power Management) di VMware. Untuk penjelasan, lihat tulisan lain tentang DPM.
Suatu saat, host nomer 4 mati. Kemudian, dalam prosesnya, dinyalakan lagi oleh Virtual Center. Tetapi pada proses menyalakan ini, task ini menggantung pada :
10%, waiting for the host to power on
Saat mencek ke console (layar) host-4, ternyata sudah menyala. Saat dicoba test ping dari host-4 ke virtual center dan sebaliknya normal, berarti sistem sudah menyala. Kemudian ditunggu selama 18 jam, ternyata statusnya masih tetap. Kemudian sudah dilakukan restart manual host-4 ini, dan statusnya tetap tidak berubah.
Setelah berkomunikasi singkat dengan Senior Engineer, Iwan Rahabok, ternyata disarankan untuk berkonsultasi dengan vendor, yaitu indo pacific.
Sebelum berkonsultasi dengan vendor, ditemukan ternyata untuk menanggulangi masalah ini, ada 2 hal yang perlu dilakukan, yaitu :
1. restart Virtual Center management service di server virtual center
2. restart management service di host-4.
Setelah mencoba step pertama, ternyata proses ini berhasil.
Suatu saat, host nomer 4 mati. Kemudian, dalam prosesnya, dinyalakan lagi oleh Virtual Center. Tetapi pada proses menyalakan ini, task ini menggantung pada :
10%, waiting for the host to power on
Saat mencek ke console (layar) host-4, ternyata sudah menyala. Saat dicoba test ping dari host-4 ke virtual center dan sebaliknya normal, berarti sistem sudah menyala. Kemudian ditunggu selama 18 jam, ternyata statusnya masih tetap. Kemudian sudah dilakukan restart manual host-4 ini, dan statusnya tetap tidak berubah.
Setelah berkomunikasi singkat dengan Senior Engineer, Iwan Rahabok, ternyata disarankan untuk berkonsultasi dengan vendor, yaitu indo pacific.
Sebelum berkonsultasi dengan vendor, ditemukan ternyata untuk menanggulangi masalah ini, ada 2 hal yang perlu dilakukan, yaitu :
1. restart Virtual Center management service di server virtual center
2. restart management service di host-4.
Setelah mencoba step pertama, ternyata proses ini berhasil.
Membuat RAID-5 di server DL360G5 dengan RAID Controller E200i, yang kata hp tidak bisa
Bulan lalu, kami membeli hard disk tambahan untuk server existing kami.
Pada server DL360G5 yang lama, terpasang 2 buah hard disk berukuran 72 GB. Karena kebutuhan storage yang semakin besar, maka diputuskan untuk membeli hard disk 3x146 dengan konfigurasi RAID-5. Setelah hard disk datang, muncullah masalah berikut:
Pada layar konfigurasi RAID Controller E200i yang ada, tidak ada pilihan untuk menggunakan RAID-5. Kami bingung, apa penyebab masalah ini. Saya kemudian mencari di website hp, dan menemukan link spesifikasi server ini (http://h18000.www1.hp.com/products/quickspecs/12476_na/12476_na.HTML), berikut capture screennya :
Saya kemudian menyerah, karena dokumen resmi hp mengatakan tidak support RAID-5. Dan berpikir, wah bakal dimarahin nih. Sudah minta beli harddisk, ternyata mesin servernya tidak support.
Kemudian, teman saya yang lebih berpengalaman dalam masalah hardware, Pak Danis, mencoba membuat RAID-5 dengan menggunakan mesin lain. Kebetulan, di atas mesin DL360G5, ada mesin DL380G5, dengan beberapa slot hard-disk yang masih kosong.
Caranya adalah memasang 3 buah hard disk yang akan dibuat RAID-5, pada mesin DL 380 G5, kemudian dibuat RAID-5. Setelah itu, 3 buah hard disk ini dipindah kembali ke mesin DL 360 G5. Voila! Raid Controller E200i, yang katanya tidak bisa untuk RAID-5, sampai saat ini (sudah 1 bulan lebih), dapat menjalankan RAID-5.
Mohon maaf untuk hp, kalau user tetap membeli entry level E200i :)
Semoga bos tidak membaca entri ini :)
Pada server DL360G5 yang lama, terpasang 2 buah hard disk berukuran 72 GB. Karena kebutuhan storage yang semakin besar, maka diputuskan untuk membeli hard disk 3x146 dengan konfigurasi RAID-5. Setelah hard disk datang, muncullah masalah berikut:
Pada layar konfigurasi RAID Controller E200i yang ada, tidak ada pilihan untuk menggunakan RAID-5. Kami bingung, apa penyebab masalah ini. Saya kemudian mencari di website hp, dan menemukan link spesifikasi server ini (http://h18000.www1.hp.com/products/quickspecs/12476_na/12476_na.HTML), berikut capture screennya :
Saya kemudian menyerah, karena dokumen resmi hp mengatakan tidak support RAID-5. Dan berpikir, wah bakal dimarahin nih. Sudah minta beli harddisk, ternyata mesin servernya tidak support.Kemudian, teman saya yang lebih berpengalaman dalam masalah hardware, Pak Danis, mencoba membuat RAID-5 dengan menggunakan mesin lain. Kebetulan, di atas mesin DL360G5, ada mesin DL380G5, dengan beberapa slot hard-disk yang masih kosong.
Caranya adalah memasang 3 buah hard disk yang akan dibuat RAID-5, pada mesin DL 380 G5, kemudian dibuat RAID-5. Setelah itu, 3 buah hard disk ini dipindah kembali ke mesin DL 360 G5. Voila! Raid Controller E200i, yang katanya tidak bisa untuk RAID-5, sampai saat ini (sudah 1 bulan lebih), dapat menjalankan RAID-5.
Mohon maaf untuk hp, kalau user tetap membeli entry level E200i :)
Semoga bos tidak membaca entri ini :)
BL490c G6 no RAID support
Menurut saya agak aneh bila sebuah server c-class, yang notabene bukan low-end server (bila dibandingkan dengan ML110 atau ML150), tidak memiliki RAID-Controller.
Tetapi hal ini terjadi pada server BL490c G6, yang merupakan server masih baru (launching semester 2, 2009), dengan harga 3-4 kali lebih mahal daripada ML110.
Apa alasan HP mengeluarkan server tanpa RAID-Controller? Ini yang menjadi pertanyaan kami user, dan bahkan mungkin engineer dari hp sendiri.
Alasan yang dikemukakan oleh salah satu engineer tempat kami membeli adalah :
1. Digunakan untuk hyper-visor
2. Menggunakan SSD yang reliabilitasnya lebih besar
Tapi, menurut saya, apapun alasannya, server tanpa RAID tidak masuk akal, karena secanggih-canggihnya suatu mesin (termasuk SSD), pasti akan mengalami kerusakan. Sehingga, bila terjadi kerusakan, akan terjadi disruption pada operasional VMWare. Walaupun ada fitur HA, tetapi tetap akan ada disruption di VM yang berjalan di atas mesin yang SSDnya rusak.
Bila aplikasi pada VM yang berjalan otomatis berjalan saat OS (VM) hidup, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi bila aplikasi pada VM baru dapat berjalan bila ada human-touch (misalnya harus login lalu mengaktifkan aplikasi), maka akan menjadi masalah.
Tetapi hal ini terjadi pada server BL490c G6, yang merupakan server masih baru (launching semester 2, 2009), dengan harga 3-4 kali lebih mahal daripada ML110.
Apa alasan HP mengeluarkan server tanpa RAID-Controller? Ini yang menjadi pertanyaan kami user, dan bahkan mungkin engineer dari hp sendiri.
Alasan yang dikemukakan oleh salah satu engineer tempat kami membeli adalah :
1. Digunakan untuk hyper-visor
2. Menggunakan SSD yang reliabilitasnya lebih besar
Tapi, menurut saya, apapun alasannya, server tanpa RAID tidak masuk akal, karena secanggih-canggihnya suatu mesin (termasuk SSD), pasti akan mengalami kerusakan. Sehingga, bila terjadi kerusakan, akan terjadi disruption pada operasional VMWare. Walaupun ada fitur HA, tetapi tetap akan ada disruption di VM yang berjalan di atas mesin yang SSDnya rusak.
Bila aplikasi pada VM yang berjalan otomatis berjalan saat OS (VM) hidup, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi bila aplikasi pada VM baru dapat berjalan bila ada human-touch (misalnya harus login lalu mengaktifkan aplikasi), maka akan menjadi masalah.
Langganan:
Postingan (Atom)